Jangan Sampai Kena Oil Sludge! Ini Rutinitas Ganti Oli di Kota Macet
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto ilustrasi: Google Gemini
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bogor – Mayoritas pabrikan atau bengkel resmi biasanya memberikan ketentuan bagi pemilik mobil untuk melakukan penggantian oli mesin setiap kelipatan 10.000 kilometer atau enam bulan. Jarak tersebut dinilai sebagai angka standar untuk menjaga performa mesin tetap optimal, terutama pada mobil yang masih baru.
Namun, bagi pemilik kendaraan yang berdomisili atau sering beraktivitas di kota besar dengan tingkat kemacetan tinggi, patokan angka di odometer tersebut dinilai bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mesin.
Mesin Bekerja Tanpa Tercatat Odometer Kamal, pemilik Bengkel Kafka yang berlokasi di Bogor, mengungkapkan bahwa kebiasaan mengganti oli tepat di angka 10.000 kilometer saat mobil sering terjebak macet bisa memicu kerusakan jangka panjang.
Alasan utamanya adalah adanya waktu operasional mesin yang terus berjalan (engine running hours) saat mobil dalam kondisi diam yang tidak terekam oleh odometer.
“Domisili Jakarta, macet setiap hari, pagi 2 jam, sore 2 jam. Tambah manasin (mesin), tambah di parkiran, tambah tunggu istri. Berapa ribu kilometer itu engine running? Yang tidak masuk ke hitungan kilometer,” ujar Kamal kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2026).
Menurut Kamal, jika diakumulasikan dengan kondisi macet parah tersebut, durasi kerja oli pada mobil yang odometernya baru menunjukkan angka 10.000 kilometer sebenarnya sudah setara dengan beban kerja yang jauh lebih berat.
“Berarti anggap dari 10.000 itu mungkin bersih-bersihnya dia 12.000 kilometer. Dan berulang dengan suhu ekstrem,” kata dia.
Ancaman Nyata Lumpur Oli (Oil Sludge) Beban kerja mesin yang tinggi akibat suhu panas saat macet, ditambah dengan durasi sirkulasi oli yang melebihi kapasitas idealnya, lambat laun akan merusak kualitas pelumas itu sendiri.
Dampak buruk yang paling sering ditemui di bengkel akibat fenomena ini adalah penumpukan lumpur oli atau oil sludge. Kamal menjelaskan, penumpukan oil sludge ini tidak langsung terjadi atau terlihat pada awal-awal pemakaian mobil dari baru, melainkan terakumulasi secara bertahap seiring berjalannya waktu.
“Penumpukan sludge itu bukan di kilometer 0 sampai 50.000. Penumpukan itu akan terjadi dari 0 ke 50.000 disambung ke berikutnya. Itu makanya, oil sludge itu menumpuk sedikit, sedikit, sampai akhirnya parah,” ucap Kamal.
Jika sudah parah, lumpur ini bisa menyumbat saluran pelumasan dan berisiko membuat mesin jebol hingga harus turun mesin. Percepat Interval Penggantian Oli Untuk mengantisipasi risiko perbaikan besar yang memakan biaya banyak, pemilik mobil disarankan untuk mengubah pola pikir dalam merawat kendaraan.
Jangan lagi hanya terpaku pada angka kilometer yang tertera di panel instrumen mobil.
Kamal menyarankan agar pemilik mobil yang sering menghadapi kemacetan parah memotong interval penggantian oli mesin menjadi setengah dari rekomendasi standar pabrikan demi menjaga komponen mekanis di dalam ruang bakar.
“Untuk oli mesin jaga di 5.000 (kilometer) ganti, maksimal 6 bulan. Jantungnya mesin itu (oli) kalau kita merawat, olinya itu kita bagus, pergantiannya bagus, mesin itu enggak akan kenapa-kenapa. Enggak bakalan rewel,” kata Kamal.
