Internasional

Ukraina Tanda Tangani Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama dengan ASEAN

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba, kiri, bertukar dokumen yang ditandatangani dengan Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn saat upacara penandatanganan Instrumen Aksesi Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara (TAC) oleh Spanyol dan Ukraina di sela-sela Asosiasi KTT Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Phnom Penh, Kamboja, Kamis, 10 November 2022.

Foto: AP Photo/Vincent Thian

50 pihak kini telah bergabung dengan pakta perdamaian ASEAN.

REPUBLIKA.CO.ID, PHNOM PENH — Ukraina menandatangani instrumen aksesi Treaty of Amity and Cooperation atau perjanjian persahabatan dan kerja sama di Asia Tenggara dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). China, India, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Rusia termasuk di antara penandatangan lainnya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina Dmytro Kuleba tiba di Phnom Penh, Kamboja pada Selasa (8/11/2022) malam dan menandatangani perjanjian itu atas nama negaranya. Pada Rabu (9/11/2022), ia mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen. Kamboja adalah ketua ASEAN tahun ini dan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi ke-40 dan 41 ASEAN.

“Kami fokus pada kerja sama bilateral dan ketahanan pangan global,” kata Kuleba dikutip laman Strait Times pada Kamis (10/11/2022).

Pertemuan langsung itu menyusul panggilan telepon antara Hun Sen dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 1 November, ketika kedua negara sepakat untuk menunjuk duta besar untuk meningkatkan hubungan diplomatik. Sementara itu Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi mengungkapkan bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke 40 dan 41 juga akan membahas pakta tersebut.

“Direncanakan juga pertemuan membahas adanya aksesi Ukraina terhadap Treaty of Amity and Cooperation dengan ASEAN,” kata Retno dalam keterangan persnya di YouTube resmi Kemenlu RI, Kamis (10/11/2022).

Sebanyak 50 pihak kini telah bergabung dengan pakta perdamaian ASEAN yang awalnya ditandatangani di antara negara-negara anggota ASEAN pada 1976. Pakta ini bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan kerja sama di kawasan tersebut. Ini merupakan prasyarat bagi negara-negara yang ingin menjalin kemitraan formal dengan ASEAN.

Prinsip-prinsip kunci perjanjian itu adalah saling menghormati kemerdekaan dan integritas teritorial, penyelesaian perselisihan dengan cara damai, dan penolakan ancaman atau penggunaan kekuatan. Aksesi Ukraina ke perjanjian itu dipandang sebagai tanda dukungan untuk Ukraina, meskipun sikap anggota ASEAN yang berbeda terhadap invasi Rusia.

Sementara Singapura telah memberlakukan sanksi terhadap Rusia, negara-negara anggota Asean lainnya seperti Laos dan Vietnam, yang mengandalkan Rusia untuk peralatan militer, telah menghindari kritik langsung Moskow. Thailand, Vietnam dan Laos abstain dari pemungutan suara Oktober di Majelis Umum PBB yang mengutuk Rusia karena mencoba mencaplok bagian-bagian Ukraina. Kamboja, yang memimpin ASEAN tahun ini, turut mensponsori resolusi tersebut.

Related Articles

Back to top button