Ekonomi dan Bisnis

Sorgum Jadi Solusi Atasi Kemiskinan Ekstrem dan Stunting

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyampaikan, pemerintah terus berkomitmen untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem dan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Upaya tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui pengembangan sorgum sebagai bahan pangan alternatif bernilai ekonomi tinggi.

Foto: Istimewa

KSP aktif dorong pengembangan riset sorgum untuk atasi stunting.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyampaikan, pemerintah terus berkomitmen untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem dan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Upaya tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui pengembangan sorgum sebagai bahan pangan alternatif bernilai ekonomi tinggi.

Karena itu, lanjut Moeldoko, Kantor Staf Presiden (KSP) juga terus aktif mendorong program pengembangan riset dan studi sorgum yang diinisiasi para civitas akademika.

“Yang bisa menggerakkan kemiskinan ekstrem dan stunting adalah sorgum. Tapi kita masih perlu meyakinkan publik bahwa sorgum ini bisa dikembangkan untuk industri makanan dan banyak industri lainnya. Harapan saya budidaya sorgum dikencangkan agar menjadi suara publik yang mengajak masyarakat menanam dan mengembangkan ekosistem sorgum,” kata Moeldoko, dikutip dari siaran pers KSP pada Rabu (9/11/2022).

Hal ini disampaikannya saat menerima audiensi pihak Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana dan Universitas Kristen Wira Wacana Sumba, di Gedung Bina Graha Jakarta.

Universitas Kristen Wira Wacana Sumba yang berlokasi di Sumba Timur, NTT, tengah berencana untuk mengembangkan salah satu program riset dan pengembangan sorgum di kampusnya. Perguruan tinggi yang baru berdiri pada 2016 silam ini kini memiliki 10 program studi dengan 4.800 mahasiswa.

Inisiasi Universitas Kristen Wira Wacana Sumba untuk mengembangkan pusat riset dan studi sorgum berangkat dari keprihatinan atas kemiskinan ekstrem dan prevalensi stunting yang cukup tinggi di NTT.

Salah satu penyebab kemiskinan ekstrem di NTT dikarenakan pengelolaan sumber daya yang masih belum optimal. Namun ternyata, kondisi tanah NTT yang kering dengan wilayah yang sedikit curah hujan per tahunnya bisa menjadi lahan yang subur bagi tanaman sorgum.

Jika dimanfaatkan secara luas, pengembangan sorgum tidak hanya memberikan alternatif pangan nasional, tapi juga menyerap tenaga kerja dan memberikanì pemasukan ekonomi bagi daerah.

“Dari 1 hektar lahan bisa menghasilkan 3-5 ton sorgum. Satu hektar lahan sorgum ini diproyeksikan menghasilkan Rp 12 juta. Budidaya sorgum ini mudah karena pupuknya juga tidak seberapa. Ini bisa mengangkat ekonomi lokal secara dahsyat,” imbuh Moeldoko.

Rektor Universitas Kristen Wira Wacana Sumba, Maklon Felipus Killa, dan Wakil Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana, Ir. Fence Emanuel Lase, pun berharap melalui kemitraan dengan badan usaha di bidang sorgum, pihak perguruan tinggi bisa mengembangkan pusat studi sorgum yang khas Sumba.

“Kami berterima kasih atas perhatian Pak Moeldoko dan KSP yang benar-benar berkomitmen membangun NTT. Kami sangat paham bahwa salah satu isu penting saat ini adalah isu pangan dan energi. Maka kami akan terus berupaya untuk mengembangkan mata kuliah yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Maklon.

Related Articles

Back to top button