Internasional

Petani India tak Miliki Pilihan Lain untuk Buang Limbah Jerami

Petani India berjalan melewati sawah saat mereka kembali setelah bekerja hari itu di Prayagraj, India, Minggu, 20 September 2020. Petani India kesulitan membuang limbah jerami mereka.

Foto: AP/Rajesh Kumar Singh

Kebakaran lahan menjadi pemandangan umum karena petani membersihkan lahan.

REPUBLIKA.CO.ID, KHAMANON — Asap mengepul dari ladang di negara bagian Punjab ketika beberapa ribu hektare tunggul tanaman dibakar, membungkus daerah sekitarnya dengan selimut tebal abu-abu, termasuk ibu kota India. Petani di Punjab, yang dikenal sebagai keranjang gandum India, mengklaim bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain untuk membuang limbah tanaman padi.

“Jika, alih-alih membakar, jerami harus dibuang dengan cara lain, maka itu melibatkan banyak pengeluaran,” ujar sekretaris jenderal serikat petani terkemuka di Punjab Paramjit Singh.

Kebakaran lahan pertanian yang mengamuk di negara-negara bagian ini telah menjadi pemandangan umum karena para petani membakar jerami untuk membersihkan ladang setelah panen dan bersiap untuk menabur berikutnya. Biasanya, panen tanaman musim panas dimulai pada Oktober dan penaburan untuk tanaman musim dingin dilakukan beberapa minggu setelah panen.

Singh mengatakan, membakar jerami lebih merugikan penduduk setempat daripada orang-orang di Delhi, sekitar 280 km selatan kota Khamanon di distrik Fatehgarh Sahib Punjab. “Itu akan mencapai Delhi lebih lama lagi tetapi (korban) pertama adalah petani karena dia berdiri di tengah-tengah ketika dia membakarnya,” kata pria berusia 45 tahun itu berdiri di ladang limbah tanaman yang terbakar di dekat Khamanon saat api melahap ladang terdekat.

Partai Aam Aadmi (AAP) yang bertanggung jawab atas pemerintah di Delhi dan Punjab telah mengambil tanggung jawab karena gagal mengekang pembakaran jerami. Partai itu mengatakan pekan lalu,  mereka bertujuan untuk menyelesaikan masalah pada November tahun depan.

“Kami telah mendistribusikan sekitar 120 ribu mesin kepada para petani yang membantu menghancurkan sisa tanaman tanpa harus membakarnya,” kata Kepala Menteri Punjab Bhagwant Mann.

Mann mengatakan, Punjab Agricultural University telah mengembangkan aplikasi seluler untuk mengidentifikasi lokasi mesin ini dan pemerintah telah mendirikan pabrik bio-energi untuk pembuangan tunggul tanaman. Di samping itu, AAP telah mendesak pemerintah federal untuk memfasilitasi pertemuan bersama antara negara bagian utara untuk mengidentifikasi penyebab polusi dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Seorang pejabat pemerintah federal yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, pemerintah pusat telah mengucurkan dana kepada otoritas negara bagian. Dana ini akan menawarkan cara alternatif kepada para petani agar tidak membakar tunggul tanaman.

sumber : Reuters

Related Articles

Back to top button