Internasional

Penyintas Insiden Itaewon Salahkan Pihak Berwenang karena Gagal Kendalikan Massa

Para pelayat berkumpul saat mereka memberikan penghormatan kepada para korban kecelakaan mematikan setelah perayaan Halloween Sabtu malam di jalan dekat tempat kejadian di Seoul, Korea Selatan, Senin, 31 Oktober 2022. Seorang warga Australia yang selamat dari kerumunan massa yang menewaskan lebih dari 150 pengunjung pesta di ibukota Korea Selatan, Seoul, menyalahkan hilangnya banyak nyawa pada kegagalan para pejabat untuk menerapkan pengendalian massa yang efektif meskipun mengantisipasi jumlah pemilih yang besar untuk perayaan Halloween.

Foto: AP Photo/Lee Jin-man

Diperkirakan 100.000 orang datang ke Itaewon untuk perayaan Halloween.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL — Seorang warga Australia, Nathan Taverniti (24 tahun) yang selamat dari insiden mematikan di Itaewon, Korea Selatan menyalahkan kegagalan pejabat setempat dalam menerapkan pengendalian massa yang efektif. Dia mengatakan, pihak keamanan semestinya bisa mengantisipasi lonjakan massa dalam perayaan Halloween. 

“Jika pemerintah tahu bahwa akan ada banyak orang di sana, dan akan ada penyumbatan jalan, seharusnya ada cukup polisi dan layanan darurat di sana yang siaga,” kata Taverniti.

Taverniti Terjebak di tengah kerumunan bersama teman-temannya. Dia mengaku masih syok dengan peristiwa mematikan pada malam Halloween di Itaewon. Salah satu teman Taverniti meninggal  dalam tragedi yang terjadi pada Sabtu (29/10/2022).

Terjebak dalam kerumunan besar, Taverniti mengatakan, dia tidak merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi sampai beberapa wanita di dekatnya tampak terpeleset dan jatuh. Sementara orang-orang di dekatnya mencoba membantu mereka kembali berdiri. Pada saat itu, Taverniti tidak bisa lagi melihat posisi ketiga temannya.

“Tiba-tiba lebih banyak orang mulai jatuh, ada terlalu banyak orang,” kata Taverniti.

Taverniti mengatakan, dia melihat tangan temannya berada di antara orang-orang yang menumpuk.  Dia mencoba meraih tangan temannya itu, namun mengalami kesulitan karena ditimpa oleh orang lain yang kehilangan keseimbangan. Taverniti mengatakan, dia mendengar banyak orang berteriak.

Taverniti mengatakan, dia berteriak ke bar dan klub agar mereka membuka pintu, dan membiarkan beberapa orang masuk untuk meredakan kerumunan. Tetapi tidak ada yang mendengarkan.  

Taverniti mengatakan, beberapa petugas polisi tiba sekitar setengah jam kemudian. Orang-orang di kerumunan membantu menarik mereka yang terluka sebelum lebih banyak petugas tiba. Taverniti menemukan jasad salah satu temannya tergeletak di antara deretan jasad lainnya di trotoar.

Dua temannya Taverniti lainnya mengalami luka dan dirawat di rumah sakit. Taverniti mengatakan, dia berencana tinggal di Seoul sedikit lebih lama untuk memastikan pemulihan teman-temannya yang dirawat di rumah sakit.

“Saya percaya 100 persen bahwa kejadian ini adalah akibat dari salah urus pemerintah dan kurangnya kemampuan karena saya tahu bahwa acara Halloween selalu sebesar ini di Itaewon. Tahun ini kehadiran polisi minim,” ujar Taverniti.

Tragedi kematian massal itu berpusat di gang sempit yang menurun di antara deretan toko yang padat dan Hotel Hamilton yang terkenal.  Jalanan di gang tersebut semakin padat oleh kehadiran gelombang orang hingga tak terbendung. Menurut saksi, beberapa dari mereka jatuh dan terguling sehingga menimpa satu sama lain seperti kartu domino. Orang-orang yang jatuh dan saling menumpuk tewas karena kekurangan oksigen.

Diperkirakan 100.000 orang berbondong-bondong datang ke Itaewon untuk perayaan Halloween selama akhir pekan. Beberapa ahli mengatakan, seharusnya pihak berwenang dapat memutuskan untuk memblokir gang tersebut karena keramaian yang meningkat.

sumber : AP

Related Articles

Back to top button