Internasional

Pemimpin Kota Hong Kong Positif Covid-19

Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee menghadiri Dialog Informal Pemimpin APEC dengan Para Tamu selama KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Bangkok, Thailand pada 18 November 2022. Pemerintah Hong Kong mengatakan pada Senin, 21 November 2022 bahwa pemimpin John Lee dinyatakan positif COVID-19 setelah kembali dari pertemuan Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik di Thailand.

Foto: Athit Perawongmetha/Pool Photo via AP

Lee dinyatakan positif Covid-19 sepulang dari pertemuan APEC di Thailand.

REPUBLIKA.CO.ID,¬†HONG KONG — Pemimpin kota atau Chief Executive¬† Hong Kong John Lee positif Covid-19. Pada Senin (21/11/2022) pemerintah Hong Kong mengatakan Lee dinyatakan positif saat baru pulang dari pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Bangkok, Thailand.

Dalam pertemuan APEC itu Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha mengatakan peserta pertemuan tersebut bertujuan mencari pertumbuhan dan pembangunan berkelanjutan. Terutama usai tantangan ekonomi dan sosial yang diakibatkan pandemi Covid-19, perusahan iklim dan persaingan geopolitik.

“Kami tidak bisa lagi hidup seperti yang kami lakukan, kami harus menyesuaikan perspektif kami, cara hidup dan cara melakukan bisnis,” kata pertemuan yang dihadiri Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris dan Presiden China Xi Jinping, Jumat (18/11/2022) pekan lalu.

APEC yang memiliki 21 anggota negara dibentuk untuk mempromosikan integrasi ekonomi. Perekonomian anggotanya mencakup 38 persen populasi, 62 persen produk domestik bruto dunia dan 48 persen perdagangan dunia.

Prayuth tidak menyinggung tentang rudal Korea Utara (Korut) yang memicu Harris menggelar rapat darurat dengan sejumlah negara. APEC merupakan pertemuan internasional ketiga di Asia Tenggara pekan ini.

Sebelumnya Kamboja menjadi tuan rumah pertemuan Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN) yang juga dihadiri AS, Jepang dan Cina. Sementara Bali, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan 20 perekonomian terbesar di dunia atau G-20.

Dua pertemuan sebelumnya banyak membahas perang di Ukraina serta ketegangan di Taiwan dan Semenanjung Korea. Para aktivis ingin melihat para pemimpin mengatasi kelangkaan pangan, lonjakan inflasi, perubahan iklim dan pelanggaran hak asasi manusia. 

sumber : Reuters

Related Articles

Back to top button