Internasional

Paus Fransiskus Kunjungi Gereja Tertua di Negara Teluk

Paus Fransiskus (kiri) bersama Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa (kanan) meninggalkan upacara penyambutan bersama otoritas masyarakat sipil dan korps diplomatik, di halaman Istana Kerajaan Sakhir di Awali, Kerajaan Bahrain, 03 Nopember 2022.

Foto: EPA-EFE/MAURIZIO BRAMBATTI

Paus menempatkan Bahrain sebagai salah satu negara paling akomodatif bagi non-Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, MANAMAH — Paus Fransiskus mengakhiri perjalanannya di Bahrain pada Ahad (6/11/2022) dengan mengunjungi gereja Katolik tertua di negara Teluk. Dia kemudian memberitahu para uskup, imam dan biarawati untuk tetap bersatu saat mereka melayani umat beriman di wilayah mayoritas Muslim.

Acara terakhir dari perjalanan empat hari berlangsung di gereja Sacred Heart yang dibangun pada 1939 di atas tanah yang disumbangkan oleh penguasa saat itu. Paus menempatkan Bahrain sebagai salah satu negara yang paling akomodatif bagi non-Muslim.

Dilansir dari Al Arabiya, Ahad (6/11/2022), Bahrain memiliki dua gereja Katolik, termasuk sebuah katedral modern yang merupakan gereja terbesar di Semenanjung Arab. Bangunan itu memiliki sekitar 160 ribu umat Katolik. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja asing.

Francis, yang menderita penyakit lutut yang memaksanya menggunakan kursi roda selama perjalanan mengatakan kepada para pemimpin Katolik setempat untuk menghindari faksi, pertengkaran, dan gosip. “Perpecahan duniawi, tetapi juga perbedaan etnis, budaya dan ritual, tidak dapat melukai atau mengkompromikan kesatuan Roh,” katanya kepada mereka.

Ada sekitar 60 imam yang bekerja di antara sekitar dua juta umat Katolik yang tersebar di empat negara di Arab Utara, kata Uskup Paul Hinder, vikaris apostolik Vatikan untuk wilayah tersebut. Di akhir kebaktian gereja, Paus Fransiskus berterima kasih kepada Raja Hamad bin Isa Al Khalifa atas keramahan yang luar biasa dari Bahrain.

Kunjungan Paus ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan Paus ke Jazirah Arab. Kunjungan Paus Fransiskus melanjutkan kebijakannya untuk meningkatkan hubungan dengan dunia Islam setelah kunjungan bersejarah ke UEA pada tahun 2019.

Ribuan umat Katolik di Bahrain dan dari sekitar Teluk membanjiri stadion untuk mendengarkan Paus menyampaikan Misa pada hari Sabtu. Pada penutupan dialog Timur-Barat yang diselenggarakan oleh Bahrain, Paus berfokus pada peran agama dalam mempromosikan perdamaian dan perlucutan senjata. Dalam referensi yang jelas kepada patriark Gereja Ortodoks Rusia, dia mengatakan para pemimpin agama tidak boleh mendukung perang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Related Articles

Back to top button