Ekonomi dan Bisnis

Memetik Rezeki Dikala Pandemi dari Ekosistem Digital Gojek

Ekosistem digital Gojek bantu mereka yang terkena PHK dan pelaku bisnis UMKM

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dedy Darmawan Nasution/Wartawan Republika

Wahyu (40) dengan sigap mengeluarkan jas hujan dari bagasi motornya ketika baru saja tiba pada titik penjemputan penumpang di selatan Jakarta. Sore itu, hujan lebat baru saja reda setelah sekitar sejam mengguyur sebagian wilayah Jabodetabek.

Bekerja sebagai pengemudi Gojek telah digelutinya sejak 2019 lalu. Lelaki asli Jakarta ini selalu penuh semangat saat nada dering ponselnya berbunyi. Pertanda penumpang yang telah menunggunya untuk dijemput atau bergegas mengambil makanan bagi konsumen Go-Food.  

Kepada Republika.co.id, lelaki bernama lengkap Wahyu Hidayat ini menuturkan, profesi Gojek amat membantu dirinya ketika terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) dari salah satu perusahaan di Ibu Kota. Bermodalkan Surat Izin Mengemudi dan sepeda motor, tanpa berpikir panjang ia memulai pekerjaan barunya sebegai pengemudi ojek online.

Gojek bagai mukhalis saat dirinya bingung harus bagaimana menafkahi istri dan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah. “Tentunya ini (Gojek) membantu, membantu banget. Yang penting kita harus bersyukur,” saat berbincang dengan Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Sekira setahun menjalani hari-harinya sebagai pengemudi Gojek, Covid-19 merebak di Indonesia sejak diumumkan Presiden Jokowi di awal Maret 2020. Indonesia resmi menjalani hari-hari dalam pandemi. Tak ada yang mengira, sebaran virus yang semula diyakini tak akan membesar, nyatanya memberi tekanan pada ekonomi masyarakat.

Wahyu mengakui, masa awal pandemi terutama kebijakan PSBB diterapkan, sempat menyulitkan ia dan rekan-rekan sejawatnya mendapat penumpang.

Namun, beruntung, situasi itu tak berlangsung lama. Meski di tengah situasi sulit dia dapat terus bekerja mengantar penumpang, menunggu notifikasi dari ponselnya dan menyambutnya dengan penuh syukur. Setidaknya, Wahyu bisa menghasilkan uang ketika jutaan pekerja di Tanah Air kehilangan pendapatan imbas pandemi.

Wahyu mengatakan, saat ini beroperasi enam hari dalam seminggu. Senin hingga Sabtu sejak jam 9 pagi hingga waktu maghrib. Rata-rata pendapatan yang bisa Wahyu bahkan kantongi mencapai Rp 200 ribu per hari atau bisa sekitar Rp 5,2 juta selama satu bulan.

“Alhamdulillah, ini cukup untuk menghidupi keluarga. Khusus hari minggu saya pakai untuk istirahat waktu untuk keluarga, karena hidup harus seimbang,” ujarnya.

Hal serupa dialami Pramdia (30) yang memulai usaha roti bakar aneka rasa “Rokarbos” sesaat sebelum pandemi di Tangerang Selatan. Kepada Republika.co.id, ia mengakui imbas kebijakan PSBB kala itu, hampir tak ada warga yang membeli roti bakar miliknya.

Ia menuturkan biasanya permintaan akan memuncak saat akhir pekan, hari libur nasional, atau saat hari besar keagamaan. Namun momen itu tak bisa ia dapatkan saat Covid-19 terus menyebar di Indonesia.

Beruntung, inovasi digital Go-Food membantu ia dan banyak pelaku UMKM kuliner lainnya mampu bertahan meski dihantam kerasnya ‘pukulan’ pandemi. Berkat digitalisasi yang kian masif, Pram menuturkan, konsumen turut beradaptasi memanfaatkan fasilitas digital yang semakin maju.  

“Intensitas order melalui online food delivery meningkat. Jumlah order online sekarang sekitar 60 hingga 70 persen dari seluruh penjualan,” ujar Pram, sapaan akrabnya.

Pram menjadi contoh dari sekian juta pelaku UMKM yang berhasil menghadapi pandemi karena masuk ke dalam ekosistem digital Go-Food.

“Go-Food membuka peluang pasar online untuk lebih luas dan menjangkau konsumen. Sekarang, sudah ada lima cabang outlet dengan lima pekerja dan sedang kita optimalisasikan,” katanya.

Namun, dirinya mengakui, perkembangan persaingan dalam ekosistem digital kian ketat. Pelaku UMKM harus lebih cermat dan membuat strategi tepat untuk tetap dapat bersaing. Ia berharap Gojek melalui ekossitemnya ke depan semakin berkontribusi untuk ekonomi mikro.

Apalagi, dalam ekosistem digital Gojek, tak hanya pemilik UMKM yang terlibat. Namun, ada pekerja di dalamnya, pengemudi yang siap menjemput dan mengantar, hingga mereka yang seluruhnya masuk dalam rantai pasok usaha mikro di Tanah Air.

Dalam Konferensi Maju Digital, yang digelar pada Kamis (27/10/2022), Chief Corporate Affairs Grup GoTo, induk perusahaan Gojek, Nila Marita menyampaikan bahwa ekosistem digital GoTo telah berkolaborasi bersama lebih dari 15 juta mitra usaha dan 2,6 juta mitra pengemudi. Platform GoTo kini juga telah digunakan sedikitnya lebih dari 67 juta pengguna bertransaksi tahunan.

Dengan besarnya jangkauan ekosistem digital Grup GoTo, tercatat hingga saat ini mampu berkontribusi sekitar 2 persen terhadap total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

“Dampak ekonomi yang besar ini tidak lepas dari peran UMKM sebagai penggerak sektor riil ekonomi tanah air dan motor pendorong pemulihan ekonomi nasional,” kata Nila.

Sementara itu, Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan RI, menegaskan komitmen pemerintah Indonesia yang tengah fokus pada sektor ekonomi digitalisasi. Di tengah tantangan ekonomi pasca pandemi, Indonesia masih mampu mencatat laju pertumbuhan ekonomi 5,44 persen hingga kuartal kedua tahun ini. Digitalisasi memegang posisi strategis dalam menyelamatkan perekonomian nasional.

Salah satu sasaran pemerintah dalam upaya digitalisasi ke depan, dengan meningkatkan persentase UMKM yang terhubung ke platform e-commerce. Saat ini dalam catatannya, baru sekitar 23 persen dari 64 juta-an UMKM di Indonesia yang terhubung ke platform digital.

Ia ingin agar nantinya hampir seluruh UMKM di Indonesia masuk ke ekosistem digital. Tujuannya, agar peluang nilai ekonomi semakin terbuka dan berdampak akhir pada membaiknya kesejahteraan masyarakat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Related Articles

Back to top button