Ekonomi dan Bisnis

Jokowi: Hilirisasi Sukses, PDB Kita Melompat, Indonesia Naik Kelas

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan BUMN berkomitmen penuh dalam melakukan akselerasi proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) atau gasifikasi batu bara. Hal ini disampaikan Erick saat mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan groundbreaking proyek gasifikasi batu bara di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022).

Foto: Istimewa

Perusahaan sulit cari dana bangun smelter, Jokowi minta OJK dukung hilirisasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar memberikan dukungan konkretnya terhadap upaya hilirisasi yang tengah dilakukan pemerintah. Sebab, ia mengaku masih mendengar keluhan perusahaan yang kesulitan mencari pendanaan untuk membangun smelter.

Hal ini disampaikan Jokowi dalam sambutannya saat menghadiri pertemuan tahunan Industri Jasa Keuangan 2023 di Jakarta, Senin (6/2).

“Tadi sudah disampaikan hilirisasi akan diberikan dukungan. Saya minta betul-betul yang konkret. Karena masih saya dengar yang mau bikin smelter saja kesulitan cari pendanaan. Jadi dukungan betul-betul diberikan tapi juga dengan kalkulasi dan kehati-hatian yang tinggi,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, hilirisasi menjadi kunci bagi Indonesia untuk melakukan lompatan menjadi negara maju. Ia menyebut hingga 2018 lalu Indonesia masih menjadi negara penghasilan menengah ke bawah atau lower middle income.

Setelah itu, Indonesia pun berhasil menaikkan status ke negara penghasilan menengah atas atau upper middle income. Namun sayangnya akibat pandemi Covid-19, status Indonesia pun kembali turun.

“Karena pandemi turun lagi jadi lower middle income. Tapi di 2022 naik lagi jadi upper middle income. Inlah yang harus terus secara konsisten kita dorong agar naik terus PDB kita sehingga kita harapkan betul-betul kita bisa melompat maju ke depan,” jelas Jokowi.

Untuk menjadi negara maju, hilirisasi pun menjadi kuncinya. Hilirisasi, kata dia, perlu dilakukan di berbagai komoditas, baik CPO, minerba, sumber daya laut, dll. Di sektor minerba, Jokowi menyebut terjadi lompatan yang besar setelah pemerintah melakukan hilirisasi nikel.

Setelah nikel, pemerintah pun akan melanjutkan hilirisasi bahan mentah lainnya seperti bauksit, timah, tembaga, emas, gas alam, minyak, dan lain-lain.

“Kalau ini betul-betul secara konsisten kita kerjakan jadilah kita negara maju. Dan jangan lupa yang namanya sumber daya alam laut kita ini akan memberikan nilai tambah yang besar kalau juga kita hilirkan. Ingat bahwa 2/3 Indonesia ini adalah air, laut, samudra. Luas lautan kita 3,25 juta kilometer. Besar sekali, potensinya belum kita apa-apakan,” jelas dia.

Ia kemudian mencontohkan rumput laut. Selama ini Indonesia merupakan eksportir nomor satu bahan mentah rumput laut. Namun untuk bahan jadinya, Indonesia hanya menduduki peringkat ketiga eksportir agar-agar. Sementara Cina menjadi importir dan ekportir nomor satu rumput laut.

“RRT tadi importir rumput laut nomor satu dan eksportir nomor satu. Ini harus ditiru. Kita harusnya jadi eksportir nomor satu bahan mentah dan nilai tambah yang ada di sini akan melompat,” kata Jokowi.

Selain rumput laut, Indonesia juga menjadi eksportir nomor satu berbagai jenis ikan seperti tuna, cakalang, tongkol, dll. Namun di sisi lain, Indonesia juga merupakan importir nomor satu ikan.

“Lucu sudah. Dorong keluar dan kita impor dalam bentuk tempung ikan. Apa gak bisa sih kita menghilirkan ini mengindustrialisasikan ikan kita jadi tepung ikan. Sesulit apa? Apa sulit banget sih? Ndak,” kata dia.

Jokowi pun mendorong agar menggandeng partner untuk mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Ia mengatakan, hilirisasi ini akan memberikan nilai tambah berkali-kali lipat bagi negara dan juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Kalau semua dihilirkan dalam negeri, melompat negara kita. PDB kita akan melompat, GDP kita akan melompat. Yang paling penting adalah memang mengintegrasikan,” ujar Jokowi.

Karena itu, ia meminta agar OJK memberikan dukungannya terhadap hilirisasi dengan melakukan sosialisasi. Sebab, proyeksi dampak hilirisasi dari minerba, migas, dan kelautan bisa mencapai 715 miliar dolar AS dan membuka lapangan kerja hingga 9,6 juta.

“Inilah yang akan terus kita kejar,” tambah dia.

Related Articles

Back to top button