Internasional

HRW Salahkan Rezim Assad dan Turki Atas Wabah Kolera di Suriah

Pasien menerima perawatan di bangsal kolera Rumah Sakit Arrahma, kota Darkush di Suriah utara (ilustrasi). Suriah mencatat 81 kematian akibat wabah kolera sejak September 2022

Foto: EPA-EFE/YAHYA NEMAH

Suriah mencatat 81 kematian akibat wabah kolera sejak September 2022

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS–Organisasi HAM, Human Rights Watch (HRW) menuduh pemerintah rezim Assad dan Turki memperburuk wabah kolera yang mematikan di Suriah. Terutama karena membatasi bantuan dan aliran air ke Timur Laut yang dikuasai Kurdi di negara itu.

Suriah telah mencatat 81 kematian dan lebih dari 24 ribu kasus dugaan penyakit yang sangat mematikan sejak September, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam wabah pertama negara itu selama lebih dari satu dekade.

Ankara disebut telah gagal memastikan aliran air yang memadai ke Sungai Efrat dan pasokan dari stasiun air strategis Alouk yang dikendalikan Turki, kata HRW.

Kelompok hak asasi manusia juga mengecam pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad karena pengalihan bantuan dan layanan penting yang diskriminatif dari daerah-daerah yang dikuasai Kurdi di Timur Laut.

Dilansir dari Al Arabiya, Senin (7/11/2022), penduduk daerah ini menghadapi aliran sungai yang berkurang dari Eufrat, di mana pengujian air pada September membuktikan adanya bakteri yang bertanggung jawab atas kolera, kata seorang pejabat kesehatan Kurdi kepada wartawan saat itu.

Otoritas Kurdi Suriah juga menuduh tetangga dan musuh bebuyutan Turki mempersenjatai air dengan mengencangkan keran di hulu, sebuah klaim yang dibantah Ankara. 

“Turki dapat dan harus segera berhenti memperparah krisis air Suriah,” kata Adam Coogle, Wakil Direktur Timur Tengah di HRW.

“Wabah kolera yang menghancurkan ini tidak akan menjadi penyakit yang ditularkan melalui air terakhir yang berdampak pada warga Suriah jika masalah air yang parah di negara itu tidak segera ditangani,” kata dia menambahkan.

Kolera umumnya menular dari makanan atau air yang terkontaminasi dan menyebar di daerah pemukiman yang tidak memiliki jaringan pembuangan air limbah atau air minum utama.

“Pembatasan yang sudah berlangsung lama pada bantuan yang mencapai daerah-daerah yang dikuasai Kurdi telah membuat fasilitas kesehatan dan kelompok-kelompok kemanusiaan yang beroperasi di timur laut Suriah berebut untuk menanggapi penyakit yang dapat menyebar dengan cepat,” kata HRW, menguraikan dugaan kesalahan pemerintah Suriah.

Di dalam Suriah, sungai Efrat sebagian besar mengalir di sepanjang wilayah yang dikendalikan otoritas semi-otonom Kurdi, yang pejuangnya yang didukung Amerka Serikat mengusir kelompok ISIS dari sisa terakhir wilayah Suriah pada 2019.

Turki menganggap para pejuang Kurdi ini sebagai teroris. “Semua pihak dalam konflik perlu memastikan hak atas air bersih dan kesehatan bagi semua orang di Suriah,” kata HRW.   

Related Articles

Back to top button