Ekonomi dan Bisnis

Direktur IMF: Jangan Biarkan Proteksionisme Perdagangan Mengakar

Managing Director IMF, Kristalina Georgieva.

Foto: AP Photo/Alessandra Tarantino

Fragmentasi ekonomi dunia berdasarkan blok-blok geopolitik akan merusak pertumbuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA — Direktur Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mendesak pemimpin G20 untuk tidak mengizinkan proteksionisme perdagangan “mengakar.” Ia menambahkan fragmentasi ekonomi dunia berdasarkan blok-blok geopolitik akan merusak pertumbuhan.

Sebelum menyampaikan pidato dalam pertemuan 20 perekonomian terbesar di dunia, Georgieva mengatakan saat ini ada 345 juta orang yang menderita akibat krisis pangan yang disebabkan perang Rusia di Ukraina, inflasi tinggi dan bencana alam terkait perubahan iklim. Ia mengatakan negara-negara G-20 harus “membiarkan perdagangan melakukan pekerjaannya.”

“Menghilangkan penghalang, terutama pada pangan dan pupuk, dapat menjadi jalan panjang untuk mengatasi penderitaan ratusan juta orang,” kata Georgieva, Selasa (15/11/2022).

“Kami tidak boleh membiarkan proteksionisme mengakar dan dunia hanyut dalam blok-blok yang terpisahkan,” tambahnya.

Sudah lama Georgieva memperingatkan bahayanya fragmentasi ekonomi dunia berdasarkan blok-blok politik. Antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di satu sisi dan perekonomian dengan fondasi pemerintah di sisi lainnya.

Ia mengatakan hal itu akan mengarah pada perbedaaan standar teknologi dan regulasi dan meningkatkan proteksionisme perdagangan. IMF menghitung perpecahan itu dapat membuat dunia kehilangan 1,5 persen produk domestik bruto setiap tahunnya.  

“Dan biayanya jauh lebih tinggi, dua atau tiga kali lebih tinggi, bagi perekonomian terbuka, yang tergantung pada kerja sama internasional,” kata Georgieva.

Ia menambahkan masih ada waktu untuk menghindari situasi ini dan “mencegah dunia berjalan sambil tidur menuju dunia yang lebih miskin dan tidak aman.”

Georgieva juga menegaskan ia meminta negara-negara G-20 untuk mempercepat keringanan utang negara-negara miskin yang terpukul pandemi Covid-19, dampak tumpahan perang di Ukraina dan inflasi.

Ia mengatakan 25 persen pasar berkembang dan 60 persen negara-negara pendapat rendah kehilangan kemampuan untuk mengatasi kelangkaan pangan dan energi.

Georgieva memuji kesepakatan Chad di mana kreditor merestrukturisasi utang eksternal sebesar 3 miliar dolar AS. Ia mengatakan itu bukti kerangka kerja perlakuan utang bersama G-20 yang lama tertunda memberikan hasil.

“Tapi kami harus melakukan lebih banyak, jauh lebih banyak lagi,” katanya.

sumber : Reuters

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Related Articles

Back to top button