Ekonomi dan Bisnis

Butuh LNG, Indonesia Beri Karpet Merah Perpanjangan Kontrak ke BP

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki

Pemerintah akan memperpanjang kontrak BP di proyek Tangguh.

REPUBLIKA.CO.ID,¬†BADUNG — Pemerintah Indonesia memaksimalkan potensi gas bumi khususnya gas alam cair atau Liquified Natural Gas (LNG) dalam menjawab kebutuhan transisi energi. Untuk itu salah satu operator LNG terbesar di Indonesia, British Petroleum (BP) akan mendapatkan karpet merah dalam perpanjangan kontrak di proyek Tanggguh.

Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto menjelaskan saat ini potensi pengembangan gas di Indonesia masih sangat bagus. BP juga memiliki track record pengembangan proyek tangguh yang maksimal selama ini. Untuk itu, perusahaan migas asal inggris itu berpotensi mendapatkan karpet merah perpanjangan kontrak.

“Kalau dilihat BP kan itu kinerjanya bagus selama 20 tahun lebih, sehingga saya kira pemerintah pasti akan memperhatikan performance yang lewat dan tentu rencana ke depan,” ujar Dwi saat ditemui di Nusa Dua, Bali, Rabu (23/11/2022).

Dwi menjelaskan BP juga saat ini sedang menjalankan proyek Ubadari dengan tambahan pengambangan Carbon Capture Storage (CCS). Selain itu, proyek Tangguh Train 3 memiliki kapasitas hingga 11 juta ton per tahun. Sehingga Dwi optimisi pemerintah akan mendorong investor untuk bisa melanjutkan proyek ini.

“Saat ini BP masih proses dalam perpanjangan. Begitu juga dengan project CCS nya ini. Kami membuka peluang untuk semua investor mengembangkan dan memaksimalkan potensi yang ada,” ujar Dwi.

Proyek Kilang LNG Tangguh merupakan pengembangan dari enam lapangan gas terpadu yang terletak di wilayah Kontrak Kerja Sama (PSC) Wiriagar, Berau, dan Muturi di Teluk Bintuni, Papua Barat, dengan luas 5.966,9 km2.

Kilang LNG Tangguh mulai berproduksi pada 2009, empat tahun setelah memperoleh persetujuan dari Pemerintah Indonesia. Saat ini produksi LNG baru berasal dari dua train yakni Train 1 dan Train 2. Namun, kini perusahaan juga tengah membangun Train 3 yang diharapkan bisa beroperasi pada kuartal I 2023 mendatang.

Cadangan gas di Proyek Tangguh ini ditemukan pada pertengahan tahun 1990-an oleh Atlantic Richfield Co. (ARCO). Tangguh LNG dioperasikan oleh BP Berau Ltd. (100 persen milik BP). Anak perusahaan lain milik BP lainnya dalam pengembangan Tangguh LNG ini adalah BP Muturi Holdings BV, BP Wiriagar Ltd. dan Wiriagar Overseas Ltd, sehingga membuat BP memiliki 40,22 persen kepemilikan di Tangguh LNG.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Related Articles

Back to top button