Internasional

AS Jatuhkan Sanksi Kepada Karyawan Senior Kantor Berita Pemerintah Iran

Pada hari Senin, 19 September 2022, foto yang diambil oleh individu yang tidak dipekerjakan oleh Associated Press dan diperoleh AP di luar Iran, sepeda motor polisi dan tempat sampah dibakar saat protes atas kematian Mahsa Amini, 22 -wanita berusia tahun yang telah ditahan oleh polisi moral bangsa, di pusat kota Teheran, Iran. Amerika Serikat (AS) pada Rabu (15/11/2022) menjatuhkan sanksi kepada karyawan senior sebuah perusahaan media milik pemerintah Iran.

Foto: AP Photo

Media itu dituduh menyiarkan ratusan pengakuan paksa para tahanan di Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Amerika Serikat (AS) pada Rabu (15/11/2022) menjatuhkan sanksi kepada karyawan senior sebuah perusahaan media milik pemerintah Iran. Media pemerintah itu dituduh menyiarkan ratusan pengakuan paksa para tahanan di Iran.

Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi terhadap enam karyawan senior Penyiaran Republik Islam Iran. Departemen Keuangan mengatakan, perusahaan media bertindak sebagai alat penting dalam kampanye penyensoran dan penindasan massal pemerintah Iran terhadap rakyatnya sendiri.

Departemen Keuangan mengatakan, perusahaan telah memproduksi dan menyiarkan wawancara orang-orang yang dipaksa untuk mengakui bahwa kerabat mereka tidak dibunuh oleh otoritas Iran selama protes nasional. Mereka dipaksa membuat pernyataan bahwa kerabat mereka meninggal karena kecelakaan.

“Ketergantungan sistemik pemerintah Iran pada pengakuan paksa menggambarkan penolakan pemerintah untuk berbicara kebenaran kepada warganya dan komunitas internasional,” ujar Wakil Menteri Keuangan untuk Pendanaan Terorisme dan Intelijen, Brian Nelson.

Nelson mengtakan, AS tetap berkomitmen untuk mendukung rakyat Iran saat mereka melanjutkan protes damai. Dia menambahkan, Washington akan terus meminta pertanggungjawaban pemerintah Iran atas pelanggaran hak asasi manusia dan penyensoran.

Aksi protes nasional menyebar di hampir seluruh wilayah Iran setelah kematian Mahsa Amini (22 tahun) dalam tahanan polisi pada 16 September. Amini ditahan oleh polisi moral karena dinilai tidak menggunakan pakaian dan jilbab yang sesuai dengan aturan negara. Aksi protes kemudian merambat ke tuntutan terhadap rezim ulama untuk mundur. Ini menjadi salah satu tantangan paling berani terhadap kepemimpinan ulama Iran sejak revolusi 1979. 

Kantor berita aktivis HRANA menyatakan, 330 pengunjuk rasa tewas dalam kerusuhan termasuk 50 anak di bawah umur.  Tiga puluh sembilan anggota pasukan keamanan juga tewas, sementara hampir 15.100 orang ditangkap.

Peradilan garis keras Iran akan mengadakan pengadilan publik terhadap sekitar 1.000 orang yang didakwa atas kerusuhan di Teheran. Mereka dituduh melakukan sabotase, menyerang atau membunuh anggota pasukan keamanan atau membakar properti publik. 

sumber : Reuters

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Related Articles

Back to top button